Tampilkan postingan dengan label TVXQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TVXQ. Tampilkan semua postingan

6.1.12

Fanfiction - Nado SAranghae, hyung [4]

Title: Nado Saranghae, Hyung.
Genre: Angst, Family and Romance.
Cast: DBSK
Pairing: YunJae.

Mianhe, author baru bisa Update. Mianhe juga, jika FF ini masih memiliki banyak kekurangan dalam penulisannya juga kependekan. Author banyak mengucapkan Terima Kasih untuk Park Ri Byul Yang telah memberi tahu letak-letak kekurangan FF ini. Dan Terima kasih untuk readers yang telah mereview.

~ooOoo~

Chapter 04
Hujan.
Sore ini Seoul diguyur oleh hujan berkepanjangan. Seakan langit turut bersedih, turut menangis bersama seorang namja berparas imut yang sedari tadi mencari sesosok yang ia sayangi di bawah derasnya hujan. Tubuhnya yang terbalut oleh V-neck putih dan celana jeans yang Melekat di kakinya kini tengah basah kuyup akibat guyuran hujan. Bibir tipisnya mulai terlihat pucat, giginya bergemelatuk menahan hawa dingin yang menusuk tulang-tulangnya.
Ia terduduk lemas di atas rerumputan taman Rumah sakit, membiyarkan dirinya terguyur oleh air hujan Lebih lama. Manik matanya terus saja mengeluarkan air mata, rasa bersalah menghinggapi hatinya.
''Mianhe.'' Ucapnya berulang kali diantara isak tangisnya yang kini sudah pecah yang diiringi oleh suara derasnya hujan. Tangan kanannya memukul-mukul tanah dengan kesal. Ia berteriak frustasi berusaha meluapkan rasa bersalah yang ada di dalam hatinya.
Tiba-tiba, tubuhnya tak lagi di guyur oleh hujan. Seseorang tengah berdiri di belakangnya sambil memayunginya agar badannya tak lagi basah oleh air. Ia mendongak, menatap sepasang mata Milik seorang yang berdiri di belakangnya yang tengah menatapnya dengan tatapan iba dan khawatir.
''Junsu-ssi, kau bisa demam nanti. Mari masuk, kita Cari Jaejoong hyung lagi saat hujan reda.'' Ucap orang itu dengan nada yang terdengar Khawatir.
''Aniya. Aku harus mencari Jae-hyung, Yoochun-ssi. Ini semua salahku, harusnya aku tak meninggalkannya tadi.'' Jawab Junsu Kembali terisak saat mengingat alasan kenapa Jaejoong bisa menghilang.
''Tapi kau bisa sakit. Jika kau sakit, kau tak bisa mencari Jaejoong hyung.'' Kata Yoochun seraya mensejajarkan tingginya dengan tinggi Junsu yang tengah terduduk di tanah. Yoochun mengelus pelan bibir Junsu yang kini terlihat Pucat dengan sayang. Iris gelap miliknya tak lepas menatap manik mata milik Junsu.
''Bahkan bibirmu sudah pucat begini. Ayolah, kita masuk dan keringkan badanmu. Setelah hujan reda, aku berjanji akan membantumu mencari Jaejoong Hyung sampai ketemu.'' Bujuk Yoochun sambil membelai dengan sayang rambut basah Junsu. Badan Junsu sedikit bergetar saat Yoochun membelai rambutnya. Junsu merasakan sesuatu yang tiba-tiba berdesir di hatinya.
''Aish, perasaan apa ini...'' Tanya Junsu dalam hati pada dirinya sendiri. Berusaha menepis perasaan aneh yang tiba-tiba hadir di dalam tubuhnya. Ia menatap manik mata Yoochun, jelas tergambar rasa Khawatir dan ketulusan disana. Entah kenapa tiba-tiba Junsu merasakan sesuatu yang aneh hadir dalam tubuhnya saat menatap mata Yoochun. Apakah ia menyukai Seorang Dokter bernama Park Yoochun yang ada di hadapannya ini? Padahal mereka baru saja bertemu satu jam yang lalu. Mungkinkah ia menyukainya?
Flasback
Satu jam yang lalu.
Yunho berjalan dengan terburu-buru menelusuri koridor rumah sakit. Rasa bingung dan takut menguasai pikirannya. Dibelakangnya terlihat Dokter muda Park Yoochun yang mengikuti langkah cepat Yunho menuju ruang rawat Jaejoong. Yunho dengan cepat membuka pintu ruang rawat Jaejoong, matanya melihat sosok Junsu yang terduduk di sudut ruangan sedang memegangi kedua lutunya sambil menangis.
Yunho segera menghampiri Junsu, ia memeluk Junsu. Berusaha menenangkan Namja itu walau sebenarnya ia sendiri juga sedang ketakutan.
''Junsu-ie, ssht. Jangan menangis, tak ada gunanya kau menangis.'' Ujar Yunho pelan sambil menepuk-nepuk bahu Junsu yang bergetar.
''Tapi Hyung, hiks.. Ini salahku..'' Kata Junsu sambil melepas pelukan Yunho. Kemudian Ia menatap Yunho dengan mata yang berlinang air mata. Yunho tersenyum sedih saat melihat Wajah Junsu yang memerah juga matanya yang sedikit sembab, ''Ssht. Sudahlah, sekarang kau bantu aku mencarinya, ne. Kau dan Yoochun-ah tolong cari Jaejoong di sekeliling rumah sakit. Aku akan mencari di jalanan sekitar sini. Arra?''
''Arraseo.'' Jawab Junsu sambil mengangguk kecil. Yunho tersenyum, ia menghapus air mata Junsu dengan punggung tangannya. Lalu membantu Junsu berdiri. Junsu Menatap Yoochun yang ada di hadapannya.
Matanya memperhatikan Wajah tampan milik Yoochun. ''Tampan..'' Gumgamnya kecil, bisa ia rasakan wajahnya memanas seketika.
''Mohon Bantuannya.'' Ujar Junsu cepat sambil menunduk, menyembunyikan wajahnya yang kini tengah memerah dari Yoochun.
''Ne.'' Jawab Yoochun sambil tersenyum sedih, ''Lagipula Ini juga Tanggung Jawabku sebagai Dokter Jaejoong Hyung.''
''Baiklah. Aku pergi dulu. Nah kalian berdua tolong cari di sekeliling rumah sakit.'' Ucap Yunho saat ia merasa bisa meninggalkan Junsu dengan Yoochun. Ia segera berlari keluar dari ruang rawat Jaejoong menuju parkiran dan melesatkan mobilnya dengan cepat membelah Jalanan Seoul.
''Nah, mari kita cari Jaejoong Hyung.'' Ajak Yoochun pada Junsu Sambil tersenyum.
Junsu mengangguk kecil, ''Aku akan mencari di taman. Anda tolong cari di dalam gedung rumah sakit.''
''Ne, baiklah.''
Flasback End
''Ne. Baiklah.'' Ucap Junsu akhirnya mengiyakan perkataan Yoochun karena menurutnya perkataan Yoochun ada benarnya juga. Yoochun yang mendengarnya tersenyum lembut ke arah Junsu.
Yoochun dengan perlahan menggenggam erat tangan Junsu yang dingin. ''Ayo masuk.'' Ucapnya sambil menarik tubuh Junsu agar segara masuk ke dalam gedung rumah sakit.
Junsu hanya mengangguk, mengikuti langkah Yoochun yang ada didepannya dengan wajah yang memerah dan jantung yang terus berdetak cepat. Sepertinya memang Junsu mulai menyukai Seorang Park Yoochun saat ini.
~ooOoo~
Seorang namja bertubuh tinggi sedang berjalan menelusuri Jalanan Seoul dengan santai. Hujan telah reda, beberapa menit yang lalu. Tubuh tingginya dibalut oleh V-neck biru muda dilapisi dengan mantel bewarna hitam serta celana Jeans. Tangan kanannya memegang erat sebuket bunga Lily putih.
''Hero hyung. Aku merindukanmu...'' Ucap namja tinggi itu pelan, sambil menghirup dalam aroma bunga Lily putih yang ia bawa. Seakan dengan melakukan hal itu mampu mengobati rasa rindunya.
Pikirannya melayang. Kembali mengingat masa lalu, saat ia masih bersama orang yang ia sayangi. Hero Hyungnya. Tiba-tiba langkah namja bertubuh tinggi itu terhenti, ia berdiri mematung memandangi sesosok namja cantik yang berdiri beberapa meter di depannya hendak menyebrang. Pakaian Namja cantik itu terlihat basah kuyup, mungkin tadi ia kehujanan. Namja tinggi itu tak percaya pada penglihatannya sekarang ini. rasa tak percaya, senang dan bingung menghinggapi hatinya disaat bersamaan.
''Hero hyung... '' Desahnya pelan dengan suara senang bercampur ketidakpercayaan. Namja tinggi itu lalu berlari kecil menghampiri namja cantik itu. Ia menarik lengan namja cantik itu dengan cepat dan sedikit kasar.
Jika terlambat sedetik saja, mungkin namja cantik itu telah tertabrak mobil yang melintas.
''Hati-Hati!'' Kata namja tinggi itu tanpa melepas lengan namja cantik yang ada di hadapannya.
Matanya terus memperhatikan namja cantik itu, seakan mencari perbedaan yang bisa membuat hatinya yakin jika sosok dihadapannya ini bukanlah orang yang sama dengan orang yang ia rindukan.
Jika namja yang ada dihadapannya ini bukanlah Hero hyungnya.
''Kau gila atau Bodoh? Jelas-jelas lampu lalu lintas bewarna hijau, kenapa kau malah menyebrang hah?'' Sambungnya lagi.
Namja cantik itu hanya diam, sambil memandangi namja tinggi di hadapannya dengan tatapan bingung.
''Kau siapa?'' Tanya namja cantik itu sambil memiringkan kepalanya, pertanda ia bingung.
''Aku Max. Kau?'' Jawab namja tinggi itu.
''Jaejoong.'' Jawab namja cantik itu. Ia menatap linglung ke arah Max, ''Kita pernah bertemu sebelumnya?''
''Tidak. Ini yang pertama.'' Jawab Max tanpa mengalihkan matanya untuk terus memperhatikan Jaejoong.
''Kenapa namja bernama Jaejoong ini begitu mirip denganmu Hero Hyung? Wajahnya sama denganmu, hyung. Bahkan dia memiliki suara yang sama sepertimu'' Tanya Max dalam hatinya pada dirinya sendiri.
Ia masih menatap Jaejoong dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa Jaejoong begitu mirip dengan Hero hyungnya Yang telah meninggal satu tahun yang lalu karena sebuah insiden kecelakaan.
''Kau membawa Bunga yang cantik. Boleh untukku?'' Tanya Jaejoong saat mata hitamnya melihat sebuket bunga lily yang dipegang Max.
''Boleh. Kau boleh memilikinya.'' ucap Max sambil memberikan bunga lily itu pada Jaejoong. ''Tapi kau harus menemaniku makan sebagai gantinya.''
Jaejoong mengangguk pelan, sambil tersenyum.
''Ne.''
~ooOoo~
Kini Max dan Jaejoong tengah duduk di salah satu kursi di sebuah restoran pilihan Max. Mereka duduk di dekat jendela, karena permintaan Jaejoong. Setelah memesan makanan, Max dan Jaejoong saling terdiam. Bingung mau berbicara apa.
''Kau kabur dari rumah sakit ya?'' Tanya Max membuka percakapan setelah lama terdiam. Ia baru sadar jika saat ini Jaejoong sedang menggunakan pakaian pasien rumah sakit.
Sedangkan Jaejoong hanya menggeleng pelan, ''Entahlah, Max. Aku lupa.''
Max kembali terdiam, keningnya berkerut, ia menatap heran Jaejoong. Pertanyaan yang ada di benak Max saat ini adalah kenapa Jaejoong bisa melupakan hal-hal yang seharusnya ia tak mungkin bisa melupakannya. Kecuali jika Jaejoong menderita penyakit...
''Kau sakit?'' Tanya Max lagi saat pelayan datang membawa pesanan mereka.
''Sepertinya.'' Jawab Jaejoong pendek. ''Hatchi...''
Jaejoong bersin-bersin. Max yang melihatnya merasa kasihan, pasti Jaejoong kedinginan sekarang. Apalagi bajunya yang basah kuyup seperti itu.
Max langsung membuka mantel hitam yang ia kenakan lalu memakaikannya pada Jaejoong.
''Agar kau tidak kedinginan.'' Ucap Max pelan, ''mantel itu bisa untuk menghangatkan badanmu. Setelah makan kita beli pekaian, ne.''
''Gomawo, Max.'' Jawab Jaejoong pelan sambil mengeulas sebuah senyuman di wajah cantiknya.
''Ne, ayo makan.'' Kata Max lalu langsung memakan nasi goreng yang ada dihadapannya.
Jaejoong terdiam, ia memperhatikan Max yang sedang makan.
Max yang merasa diperhatikan, menghentikan makannya dan menatap Jaejoong dengan heran.
''Kenapa kau memperhatikanku?'' Tanyanya ''Dan kenapa kau tak makan?''
''Mianhe. Tapi Aku lupa cara makan.'' Jawab Jaejoong pelan sambil menundukan kepalanya. Menyembunyikan raut kesedihannya dari Max.
Max yang mendengarnya, hanya mendesah ringan. Sepertinya dugaannya benar.
''Alzheimer?'' Tanya Max pada Jaejoong.
Jaejoong terdiam, lalu mengangguk ragu.
''Arraseo.'' Jawab Max sambil mengangguk pelan. Ia menggeser kursinya menjadi disamping Jaejoong. Ia menyendok sesendok penuh nasi goreng ''Bilang aaaaa..'' Katanya pada Jaejoong.
Jaejoong dengan ragu-ragu membuka mulutnya dan mulai makan.
''Gomawo..'' Ucap Jaejoong setelah mengunyah makanannya. ''Eh, Max. makanan itu apa namanya?'' Tanya Jaejoong antusias sambil menunjuk piring yang berisi beberapa potong sushi. Max melihat ke arah yang ditunjuk oleh tangan lentik Jaejoong.
''Oh, ini. Kau pasti lupa namanya, kan. Ini namanya sushi. Kau mau mencobanya?'' tanya Max sambil tersenyum.
Saat seperti ini, ia teringat lagi oleh Hero hyungnya. Dulu ia sering sekali menyuapi hyungnya itu.
''kalau boleh, aku mau..'' Ucap Jaejoong dengan nada manja. Melihat itu, Max tersenyum lembut ke arah Jaejoong, ia menyuapkan sepotong sushi ke Jaejoong.
''Enak.'' Desah Jaejoong pelan. ''Max, kalau yang itu apa?'' Tanya Jaejoong lagi dengan tatapan polos. Yang membuat Max tak bisa berhenti melukiskan senyuman di wajah tampannya.
''Ini udang. aaa..'' Ucap Max sambil menyuapkan sepotong udang pada Jaejoong.
Max terus menyuapi Jaejoong dengan makanan yang ada di atas meja. Sesekali mereka tertawa karena Max menceritakan sebuah lelucon pada Jaejoong.
''Kau tahu, kau begitu mirip dengan hyungku.'' Ucap Max tiba-tiba setelah menyuapkan sepotong daging pada Jaejoong.
Jaejoong yang mendengarnya menatap Max dengan pandangan bingung.
''Bagaimana bisa?'' Tanyanya ''Wajahnya sama denganku?''
''Bukan hanya wajah. Beberapa tingkah lakunya sama sepertimu. Kau mengingatkanku padanya.'' Jawab Max sambil membelai rambut Jaejoong pelan. Ia memandangi mata hitam milik Jaejoong dengan tatapan sayang.
Tanpa Max sadari, manik mata kelamnya menitihkan air mata. Ia tak mampu lagi menahan Rasa rindunya.
''Max... Kau menangis. kenapa?'' Tanya Jaejoong sambil menghapus air mata Max dengan punggung tangannya. Ia menatap Max dengan mata besar hitamnya, ''Apa aku menyakitimu?''
Max menggeleng pelan, ''Aniya. Kau membuatku Senang. Boleh aku memelukmu?'' Tanya Max dengan nada pelan dan sedikit ragu.
Jelas terpancar di pandangan matanya, jika ia sedang sedih. Jaejoong hanya tersenyum sambil mengangguk, Menyetujui permintaan Max.
Max langsung memeluk Jaejoong dengan erat, menenggelamkan wajahnya pada dada Jaejoong. Sama seperti saat ia memeluk hero hyungnya.
Samar tercium aroma vanilla dari tubuh Jaejoong, yang lagi-lagi aroma yang juga dimiliki Hero Hyungnya. Mereka berdua sama-sama beraroma vanilla.
''kau begitu merindukannya, ne?'' Tanya Jaejoong sambil mengelus pelan bahu Max yang bergetar.
''Ne. Aku sungguh merindukannya.'' Jawab Max masih dalam pelukan Jaejoong dengan suara parau. Ia menangis.
''Memangnya hyungmu pergi kemana, Max?'' Tanya Jaejoong lagi. Terdengar nada keheranan dalam suaranya saat menanyakannya.
''Surga.''
Mendengar jawaban Max, Jaejoong terdiam. Tapi sedetik kemudian ia langsung membelai rambut Max dengan sayang. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayangi, apalagi bagaimana tersiksanya jika rasa rindu telah muncul memenuhi segala ruang dalam hati. Karena Jaejoong mengingatnya, ia juga pernah merasakan hal yang sama seperti Max. Saat-saat dimana ia begitu merindukan kedua orang tuanya.
''kau boleh menganggapku sebagai hyungmu, Max. Eum, bukan untuk menggantikan posisi hyungmu, hanya untuk mengisi kekosongan hatimu karena kepergian hyungmu.'' Kata Jaejoong pelan di telinga Max. Ia berusaha menghibur Max.
Max melepaskan pelukannya, matanya yang sedikit sembab dan merah menatap Jaejoong dengan tatapan tak percaya.
''kau serius?'' Tanyanya dengan suara bergetar. Tak percaya juga senang terdengar jelas di dalam suaranya.
''Ne. Tentu saja.''
''Ah, gomawo Jaejoong hyung.''
~ooOoo~
''Kau pergi kemana Joongie?'' Bisik Yunho pelan di balik kemudi mobilnya. Matanya terus memperhatikan jalanan Seoul yang ramai sore ini. Hujan telah reda beberapa saat yang lalu, membuat Jalanan kembali ramai karena orang-orang kembali beraktivitas.
Yunho menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia sudah tak tahu lagi harus mencari Jaejoong kemana. Ia sudah mengelilingi Seoul selama satu setengah jam, tapi sampai sekarang ia belum berhasil menemukan Jaejoong.
''Pabbo!'' Umpat Yunho sambil memukul Stir Mobil dengan tangan kanannya.
Berusaha meluapkan rasa kesal dan frustasi yang ada di dalam dirinya.
''Harusnya kau menjaganya, bukan malah meninggalkannya! Dasar Pabbo! Kau mencintainya kan? Harusnya kau tetap disisinya, bukan malah pergi! Pabbo! Sekarang bagaimana? kau Bodoh Yunho!'' Teriak Yunho kesal di dalam mobil.
Ia meremas rambutnya frustasi. Air matanya keluar dengan perlahan membasahi wajahnya yang tampan. Ia mengucapkan kata maaf diantara tangisnya.
''Joongie, mianhe. Jangan begini.. Hyung janji akan selalu menemanimu, ne. Kamu dimana Joongie? Jangan siksa hyung seperti ini...'' Racau Yunho sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. Rasa Sakit yang ia rasakan karena tidak becus menjaga Orang yang ia sayangi sekaligus ia cintai.
Tiba-tiba Ponsel Yunho berdering, tanda seseorang menghubunginya. Dilayar Ponselnya tertera nama Yoochun. Dengan Enggan ia menerima telpon Dari Yoochun itu.
''Yeoboseo.'' Ucap Yunho dengan suara tercekat.
''Hyung, Mianhe. Aku sudah mencari Jaejoong hyung bersama Junsu-ssi di area sekeliling rumah sakit. Tapi Jaejoong hyung tidak ada.'' Kata Yoochun dengan suara yang terdengar sedih dan bersalah juga menyesal melebur menjadi satu.
''Arraseo. Aku masih mencarinya, Yoochun-ah. Gomawo sudah mau membantuku mencari Jaejoong.'' Jawab Yunho.
''Ne, hyung. Mungkin sekarang Jaejoong hyung sudah berada di jalanan sekitar ...''
Yunho mendengarkan Yoochun berbicara, sambil matanya memperhatikan sekeliling.
Tiba-tiba ekor matanya melihat sosok Jaejoong sedang bersama seorang namja bertubuh tinggi. Mereka berdua berada di sebrang jalan.
''Yoochun-ah. Mianhe, aku putus telponnya. Aku akan mengabarimu segera'' Ucap Yunho cepat lalu memutus sambungan telponnya kemudian memasukkan ponselnya ke saku celananya.
Ia segera keluar dari dalam mobilnya.
''Joongie!'' Panggil Yunho sedikit berteriak.
Tapi Jaejoong tak berhenti melangkahkan kakinya bersama namja tinggi itu. Yunho dengan cepat berlari menyebrang terburu-buru tak ingin kehilangan Jaejoongnya untuk kedua kalinya. Ia menyebrang tanpa melihat kondisi jalanan.
''Joongie!'' Panggilnya lagi.
''AWAS!'' Pekik seorang yeoja yang berdiri di sebrang jalan pada Yunho. Dengan cepat Yunho menoleh ke samping dan melihat sebuah mobil tengah bergerak ke arahnya.
TIIIIN!
TBC...
~ooOoo~

Fanfiction - Nado Saranghae, Hyung [3]

Author : Kim Re Ah
Title : Nado saranghae hyung
Genre : Angst, Family, and romance.
Cast : DBSK
Pairing : YunJae
Chapter 3 ini di publish cepet, sebagai perminta maafan author karena chapter 2nya jelek dan kecepetan alurnya.
Makasih untuk reviewnya. semoga cahpter ini nggak kecepetan lagi ya, alurnya.
~ooOoo~
chapter 03
''Jangan sekarang. Ini terlalu cepat.'' bisik Yunho pada telinga jaejoong yang sudah tak sadarkan diri. ''bahkan kau belum mendengar pernyataan cintaku. Jangan sekarang, jebal...''
~ooOoo~
Dengan cepat Yunho segera membawa jaejoong ke rumah sakit. Saat dirumah sakit jaejoong langsung ditangani oleh dokter Park Yoochun, dokter kepercayaan keluarga Jung. Yunho menunggu di depan ruang ICU dengan perasaan gelisah. Perasaan takut mulai menyergapnya lagi, perasaan takut akan kehilangan sosok yang ia sayangi untuk ketiga kalinya. Ya, Tuan dan Nyonya Jung telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Tuan jung meninggal karena kecelakaan sedangkan Nyonya Jung karena penyakit yang sama dengan penyakit yang diderita jaejoong sekarang.
Beberapa menit kemudian dokter park Yoochun keluar dari ruang ICU. Yunho yang melihatnya, langsung menghampiri dokter muda itu.
''apa yang terjadi dengan jaejoong, Yoochun-ah?'' tanya yunho langsung.
''dia kelelahan, hyung. Sepertinya ia banyak memaksakan diri akhir-akhir ini. Memaksakan diri untuk mengingat sesuatu.'' kata Yoochun pelan. Yunho hanya dapat terdiam setelah mendengar perkataan Yoochun. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa agar BooJaenya itu tak menderita dengan penyakit yang dideritanya.
''lalu bagaimana sekarang?'' tanya Yunho lagi dengan nada yang terdengar lelah. Lelah melawan kenyataan jika sebentar lagi mungkin ia akan berpisah dengan Boojaenya.
''sebaiknya mulai sekarang, jaejoong hyung di rawat di sini saja. Aku sudah harus mulai memperhatikan jaejoong hyung secara lebih sekarang.'' jawab yoochun sambil mendesah ringan.
''arraseo.'' ucap Yunho sambil tersenyum sedih. Yang dapat ia lakukan sekarang hanyalah menuruti perintah Yoochun, agar dapat setidaknya memperpanjang waktu boojaenya.
~ooOoo~
Junsu berjalan dengan cepat menelusuri koridor rumah sakit tempat jaejoong dirawat. Ia merasa gelisah karena tiba-tiba saja Yunho melefonnya dan memintanya untuk pergi ke seoul hospital karena jaejoong ingin bertemu dengannya. Junsu mengetuk pelan sebuah pintu ruang rawat bercat putih. Beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka. Seorang namja tampan dengan mata elang berdiri di depan junsu.
''Hyung..'' panggil junsu pelan pada seseorang didepannya. ''aku datang.''
''masuklah.'' ucap namja itu mempersilahkan Junsu masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh bau obat-obatan.
''jaejoong sedang tidur, bisakah kau menunggunya sampai ia bangun?'' tanya namja itu lagi sambil memandangi seorang namja cantik yang tengah tertidur.
Junsu mengangguk pelan, ''ne. Aku akan menunggu jae-hyung bangun. Yunho hyung..''
''gomawo, junsu-ah.'' jawab yunho sambil tersenyum.
''bagaimana bisa jae-hyung masuk rumah sakit, hyung?'' tanya Junsu pada yunho.
''kata dokter dia kelelahan, sepertinya dia terlalu memaksakan diri untuk ujian.'' jawab yunho sambil tersenyum sedih.
''lalu bagaimana kondisinya sekarang?'' tanya junsu lagi. Kini ia memandangi jaejoong yang tertidur di atas ranjang rumah sakit. Kulit putih jaejoong kini terlihat lebih pucat dari pada dulu. Badan jaejoong pun kini terlihat lebih kurus dari pada dulu, terakhir junsu melihat jaejoong.
''dia harus dirawat di sini'' kata yunho sambil mendesah ringan. ''boleh kutitipkan jaejoong sebentar padamu? Aku harus pergi ke kantor, ada beberapa pekerjaanku yang harus kuselesaikan.''
''ne, hyung. Aku akan menjaga jaejoong hyung sampai kau kembali.'' jawab junsu sambil tersenyum.
''gomawo. Aku akan cepat kembali.'' kata yunho lalu berjalan meninggalkan ruang rawat jaejoong.
Setelah Yunho pergi, Junsu mendudukkan dirinya di kursi di samping ranjang jaejoong. Tangannya mengelus pelan rambut jaejoong dengan sayang. Pikirannya melayang ke masa saat mereka berdua masih sama-sama sekolah. Saat-saat dimana Junsu selalu membantu keseharian jaejoong di sekolah beberapa minggu terakhir sebelum kelulusan.
''jae-hyung...'' panggil junsu pelan. Matanya mulai terasa panas, sebentar lagi mungkin air matanya akan turun membasahi wajahnya. Ia merasa sedih saat melihat kondisi jaejoong saat ini, begitu lemah. Apalagi saat ia teringat akan kenyataan mungkin sebentar lagi jaejoong akan meninggalkannya.
Tiba-tiba saja jaejoong membuka matanya perlahan, mengerjap-ngerjapkan manik matanya beberapa kali. Menyesuaikan retina matanya yang terkena sinar lampu.
''kau siapa?'' tanya jaejoong saat melihat junsu yang sedang duduk di samping ranjangnya.
''ini aku, junsu. jae-hyung.'' jawab junsu sambil tersenyum ke arah jaejoong. Tapi didalam hatinya ia sedih melihat kondisi hyungnya yang seperti ini. Jaejoong terdiam, mencoba mengingat junsu.
''ya! akhirnya kau datang Junsuie, kau lama sekali.'' kata jaejoong sambil mengerucutkan bibir cherrynya saat ia sudah mengingat Junsu. Junsu hanya tertawa kecil saat melihat kelakuan jaejoong. Kebiasaan Hyungnya yang tak berubah saat ia sedang kesal.
''mianhe, jae-hyung. Diluar macet sekali.'' jawab junsu sambil tersenyum. ''nah, apa yang ingin kau bicarakan denganku?''
jaejoong kembali terdiam, ''mianhe. Aku lupa junsuie.''
''aku punya banyak waktu untuk menunggumu, hyung. Tak usah terburu-buru.'' jawab junsu. ''santai saja.''
Jaejoong mengangguk lalu ia terdiam, begitu pula dengan junsu. ruangan itu begitu hening yang terdengar hanyalah suara detik jam dinding yang terus berputar, menyadarkan junsu dan jaejoong jika waktu terus berjalan dalam keheningan ini.
''junsuie, aku sudah ingat sekarang.'' ucap jaejoong tiba-tiba setelah ia terdiam lama. Sangat lama, sampai-sampai junsu ketakutan dalam diamnya. Ia takut terjadi sesuatu pada jaejoong.
''hm, apa?'' tanya junsu sambil memandang jaejoong.
''tolong jaga Yunho hyung.'' ucap jaejoong pelan sambil tersenyum. ''dia hyung yang baik. Aku tak mau melihatnya sedih jika nanti aku pergi.''
''hyung, kau bicara apa sih?'' tanya junsu dengan suara sedih. ''jangan katakan ini lagi. Aku tak mau mendengarnya. Kau akan sembuh, hyung. Ingat itu!''
jaejoong menggeleng pelan, ''tidak, suie. Aku tahu penyakit apa yang menyerangku. Dulu aku pernah melihat umma dalam kondisi seperti ini.''
jaejoong ingat bagaimana keadaan ummanya dulu, saat ummanya sakit seperti dirinya saat ini. Semua usaha yang dilakukan tetap saja membuahkan hasil yang sama. Tetap saja semuanya berujung pada lubang kematian, penyakit yang ummanya dan ia derita saat ini belum bisa di sembuhkan oleh dunia medis. Mau tak mau ia harus meninggalkan Hyung yang ia sayangi sejak kecil itu. Bahkan rasanya sekarang rasa sayangnya untuk Yunho sudah berbeda. Bukan lagi rasa sayang adik kepada kakak.
''itu dulu, hyung. Sekarang, aku dan yunho hyung akan berusaha membuatmu sembuh. Kau akan sembuh dan hidup bersama kami.'' jawab junsu yakin sambil menangis.
Ia tak mau melihat Hyungnya pesimis, kemungkinan untuk sembuh itu pasti ada walaupun sangat kecil. Walaupun rasanya mustahil.
''suie, jebal. Tolong lakukan ini untukku.'' kata jaejoong memohon, ''aku tidak tahu lagi harus menitipkan Yunho hyung pada siapa selain padamu.''
''arraseo.'' jawab junsu akhirnya sambil mendesah ringan. Menatap sendu ke arah jaejoong yang tengah tersenyum manis karena permintaannya telah terpenuhi.
''aku akan menjaga yunho hyung, asalkan jae-hyung mau berjanji satu hal padaku.'' ucap junsu tiba-tiba.
''apa?''
''jangan pernah lelah, Jangan pernah menyerah pada penyakitmu, ne. Kau kuat, hyung kau pasti sembuh.'' kata junsu pelan seraya menggenggam erat tangan jaejoong. ''arra?''
''arraseo. Aku janji, padamu suie.'' jawab jaejoong sambil mempererat genggaman tangannya dengan tangan Junsu. Junsu hanya mengangguk kecil, lalu terdiam.
Hening.
Lagi.
Yang terdengar hanyalah suara detak jam dinding. Jaejoong dan Junsu sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Jaejoong memikirkan hubungannya dengan Yunho. Sebenarnya jika ia boleh jujur, ia mencintai Hyungnya itu sejak dulu. Ia selalu memendam rasa cintanya itu, karena takut hyungnya akan merasa jijik dengannya. Bukankah mereka tidak seharusnya saling menyukai satu sama lain?
Karena alasan itulah jaejoong hanya diam saja, ia hanya bisa menunjukan rasa sayangnya sebatas rasa sayang adik kepada kakaknya. Ya, hanya adik kepada kakanya tak lebih. Tapi jauh didalam hatinya, ia menginginkan suatu keajaiban datang dalam hidupnya. Walaupun hanya sebentar, walaupun hanya sekejap ia ingin hyungnya itu membalas rasa cintanya. Tapi entahlah, akankah keajaiban itu akan datang pada kehidupan jaejoong?
Dan semoga saja, ia masih memiliki waktu untuk menanti keajaiban itu.
Berbeda dengan Junsu, ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar Jaejoong bisa sembuh. Terdengar mustahil memang, tapi apa salahnya berharap dan berusaha?
Apa salahnya berharap akan terjadi keajaiban di kehidupan jaejoong. Keajaiban ia dapat sembuh dari penyakitnya, keajaiban ia dapat kembali menjalani hari-harinya lagi seperti dulu.
Apa salahnya berusaha mencoba mengobati penyakit itu. berusaha membuatnya sembuh walau dengan kemungkinan yang kecil dan terdengar mustahil.
''hyung, kau lapar tidak?'' tanya junsu tiba-tiba memecah keheningan yang sedari tadi merajai.
''hm..'' jaejoong mengangguk kecil.
''kalau begitu, aku pergi beli makanan dulu ya.'' kata junsu sambil berdiri dari kursi yang ia duduki, ''sebentar saja. Aku akan cepat kembali.''
jaejoong mengangguk pelan. Setelah sosok junsu telah hilang di balik pintu ruang rawatnya, jaejoong mendudukkan tubuhnya di atas ranjangnya.
''aku bosan...'' desahnya kecil
~ooOoo~
junsu berjalan cepat menelusuri koridor rumah sakit. perasaan takut dan khawatir mulai menyerang hatinya, ia terlalu lama meninggalkan jaejoong sendirian. Sudah hampir setengah jam, ia meninggalkan jaejoong. Junsu dengan cepat membuka pintu kamar rawat jaejoong. Kantong plastik berisi makanan terlepas begitu saja dari tangannya saat ia melihat ke arah ranjang jaejoong yang kosong. ''jae-hyung... Kau dimana?'' desah junsu pelan sambil masuk ke dalam ruang rawat jaejoong. Ia mencari sosok jaejoong dalam ruangan itu, tapi nihil. Matanya tak dapat menemukan sosok jaejoong dalam ruangan berbau obat-obatan itu. Matanya mulai terasa panas, hatinya mulai terhinggapi oleh rasa ketakutan.
Tangannya mulai gemetar, bahu serta kakinya pun ikut bergetar. Ia terduduk lemas di lantai, saat dirinya sadar akan kenyataan yang terjadi. Jaejoong hilang!
Apa yang harus ia katakan pada yunho nanti? Apalagi kondisi jaejoong yang sedang sakit seperti ini bisa membahayakan nyawa jaejoong sendiri.
''pabbo! Kenapa kau meninggalkannya sendirian!'' maki junsu pada dirinya sendiri. Tanganya yang masih gemetar, mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Ia menekan nomor yunho dan menghubunginya.
"Yeoboseyo.'' ucap junsu dengan suara yang bergetar saat sambungan telponnya terhubung dengan Yunho.
''ne, junsu-ah. Ada apa?'' tanya yunho.
''hyung... Mianhe, hyung. Mianhe...'' ucap junsu diantara isak tangisnya.
''junsu-ah. Ada apa? Kenapa kau menanggis?'' tanya yunho dengan suara yang terdengar keheranan. ''ada apa? Jangan membuatku takut.'' ''mianhe, yunho hyung. Tadi aku meninggalkan jaejoong hyung untuk membeli makanan. saat aku kembali, jae-hyung sudah...''
''sudah apa junsu-ah?'' potong yunho cepat. Terdengar nada suaranya yang mulai ketakutan.
''jae-hyung sudah tidak ada di kamarnya, hyung.'' jawab junsu dengan suara yang lirih hampir berbisik. ''jae-hyung hilang.''
''...'' hening. Tak ada jawaban.
''hyung...'' panggil junsu lagi saat Yunho hanya diam saja.
''junsu-ah, ayo kita cari jaejoong.''
''arraseo.''
TBC
~ooOoo~

12.12.11

111213 SMTOWN Winter Album’s Title Song ‘Santa U Are the One’ – MV to be released on the 13th


SMTOWN’s Winter Album, 2011 SMTOWN Winter The Warmest Gift’s title song Santa U Are the One’s music video will be released today on the 13th.
On the 13th, through Super Junior’s official website (http://superjunior.smtown.com) , SMTOWN’s official YouTube channel (http://www.youtube.com/smtown) and SMTOWN facebook page (http://www.facebook.com/smtown) the music video will consist of the casual moment of the SMTOWN singers, who have all participated in the 2011 SMTOWN Winter ‘The Warmest Gift’.
Also, since the title song ‘Sant U Are the One’ was sung by Super Junior, the music video has the behind the scenes of the album jacket photoshoot and of the recording of the song.
Also, 2011 SMTOWN Winter ‘The Warmest Gift’ features Kangta, BoA, DBSK, TRAX, The Grace’s Dana and Sunday, Super Junior, SNSD, SHinee, f(x), Jang Riin, J-min and many more. The album is sung in English in order to globalize and connect with the foreign fans.
Meanwhile, the album 2011 SMTOWN Winter ‘The Warmest Gift’ will be released online and in stores starting today, and will be released in Japan as well on the 14th.
Source: chosun
Translated by Jee ( www.sup3rjunior.wordpress.com )

TAKE OUT WITH FULL AND PROPER CREDITS


11.12.11

Fanfiction -Nado Saranghae Hyung [2]

Author : Kim Re Ah
Title : Nado saranghae hyung
Genre : Angst, Family, and romance.
Cast : DBSK
Pairing : YunJae

capther 02

Jam telah menunjukan pukul delapan malam, yunho yang berada di kamarnya mulai terlihat gusar diatas ranjangnya. Ia sedari tadi menunggu jaejoong, biasanya jaejoong akan ke kamarnya untuk Mengajaknya mengobrol setelah makan malam.
''mungkin sebaiknya aku saja yang ke kamarnya.'' ucap yunho pelan sambil beranjak dari ranjangnya, saat ia akan keluar kamar ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dilayar ponselnya tertera nomor yang tak ia kenal.
"Yeoboseyo? Nugu?'' tanya yunho saat menerima telpon itu.
''ini junsu, yunho hyung.'' ucap suara di sebrang. ''ada yang ingin kuberitahu padamu, hyung.''
Kening yunho berkerut, ''ada apa junsu-ah?''
''hm, ini tentang jae-hyung.''
''ada apa dengan jaejoong?'' tanya yunho cepat.
''sepertinya ada yang aneh dengan tubuh jae-hyung hari ini. Hari ini dia banyak melupakan hal-hal yang seharusnya tak mungkin ia lupakan...''
''berikan aku contohnya junsu-ah..'' potong yunho cepat. Pikirannya mulai tak tenang, ia takut penyakit itu menyerang jaejoong.
''hari ini jae-hyung melupakan letak parkiran sekolah, ia lupa cara mengerjakan soal matematika yang mudah, dan dia tadi sempat melupakanku. Ah, tidak melupakanku. Hanya saja ia sempat ragu menyebutkan namaku saat melihatku.'' jelas junsu panjang lebar.
''...'' hening. Yunho
''hyung?'' panggil junsu di sebrang.
''ah, ne junsu-ah. Besok aku akan membawa jaejoong ke rumah sakit untuk di periksa. Gomawo atas informasinya.'' kata yunho lalu menutup sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari junsu. Dadanya sesak, kepalanya tiba-tiba pusing setelah mendengar perkataan dari junsu.
''andwe!'' katanya pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan mengusir pemikiran buruk yang ada dalam kepalanya. Yunho segera keluar dari kamarnya, menuju kamar jaejoong.
''joongie..'' panggil yunho pelan sambil membuka pintu kamar jaejoong yang bersebelahan dengan kamarnya. Yunho melihat jaejoong sedang terduduk di ranjang dengan punggung yang bersandar di sandaran ranjang.
''hyung?'' panggilnya ragu saat melihat yunho berdiri di ambang pintu.
''ne, ini hyung.'' kata yunho pelan sambil tersenyum sedih, ''ini yunho hyung.''
yunho segera memeluk jaejoong, ia benar-benar takut sekarang.
''hyung, hari ini ada yang aneh dengan tubuhku.'' kata jaejoong dalam pelukan yunho.
''hyung tahu, kita ke dokter besok, ne. Sekarang istirahatlah.'' kata yunho sambil melepas pelukannya.
''Temani aku, hyung.''
Yunho mengangguk pelan, ia duduk di tepi ranjang jaejoong. Ia membelai dengan sayang rambut jaejoong sampai jaejoong tertidur. Setelah yakin jika jaejoong sudah tertidur, yunho mendekatkan wajahnya dengan wajah cantik jaejoong. Dengan cepat dan pelan ia mencium bibir cherry milik jaejoong.
''maafkan, hyung. Tapi hyung begitu mencintaimu. Biarkan hyung mengucapkannya.'' kata yunho pelan, ''saranghae, boojae.''

***

Esoknya yunho membawa jaejoong ke seoul hospital untuk memeriksakan kondisi jaejoong. Mereka akan menemui dokter Park Yoochun, dokter kepercayaan keluarga mereka.
''pagi, yoochun-ah.'' ucap yunho saat mereka masuk ke dalam ruangan dokter Yoochun. Selain menjadi dokter kepercayaan, yoochun juga teman Yunho dan Jaejoong.
''ne, hyung.'' jawab yoochun sambil tersenyum.
''ayo, jae-hyung. Kita periksa keadaanmu.'' sambungnya sambil mengajak jaejoong untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Setelah beberapa lama memeriksa kondisi jaejoong, yoochun menyudahi pemeriksaannya. Ia keluar dari ruang pemeriksaan, tanpa jaejoong. Jaejoong ia suruh beristirahat di ruang pemeriksaan.
''dia sakit apa Yoochun-ah?'' tanya yunho langsung saat melihat yoochun keluar dari ruang pemeriksaan tanpa diikuti jaejoong.
Yoochun menunduk, ''alzheimer, hyung.''
Yunho hanya dapat menatap yoochun dengan tatapan tak percaya, ''jangan bercanda! Kau bohongkan!''
''aku serius. Waktunya tak lebih dari 3 bulan, hyung.'' jawab yoochun pelan sambil memegang pundak yunho. ''aku akan melakukan yang terbaik untuknya.''
''bohong...'' ucap yunho lirih. Masih tak percaya dengan kenyataan yang dihadapi. Ketakutannya sekarang menjadi kenyataan. ''bagaimana keadaannya sekarang?''
''untuk sementara, Jae-hyung bisa di rawat di rumah. Tapi jika terjadi sesuatu padanya langsung bawa dia kemari, hyung.'' sambung yoochun.
''ne, arraseo.'' jawab Yunho pelan.
''aku mau membawanya pulang, yoochun-ah.'' kata Yunho lagi.
''ne, silahkan. Kuatkan hatimu hyung, saat bersamanya.'' kata Yoochun sambil menepuk pelan bahu yunho lalu pergi meninggalkan Yunho. Yunho masuk ke dalam ruang pemeriksaan dan melihat Jaejoong sedang terbaring di ranjang pemeriksaan.
''joongie..'' panggil Yunho pelan pada jaejoong. Jaejoong merubah posisi tubuhnya menjadi duduk, ia memandangi Yunho dengan bola matanya yang hitam itu.
''siapa?'' tanyanya dengan wajah polos pada Yunho. Yunho yang mendengar pertanyaan jaejoong hanya bisa memaksakan sebuah senyuman untuk jaejoong tapi jauh didalam hatinya ia menangis.
''ini hyung, joongie.'' kata yunho sambil mendekati jaejoong. ''ini yunho Hyung.''
jaejoong terdiam, ia tetap mengamati Wajah Yunho berusaha mengenalinya.
''ah, Yunho Hyung...'' kata jaejoong setelah ia terdiam lama. Ia memeluk Yunho dari samping dengan erat. ''mianhe, hyung.''
''ne, gwenchana. Ayo kita pulang.'' kata Yunho sambil membantu Jaejoong berjalanan ke arah parkiran Rumah sakit.
''hyung, joongie sakit apa?'' tanya jaejoong saat mereka sudah berada di dalam mobil. Yunho menoleh ke ara jaejoong, pandangan matanya menjadi sedih seketika.
''sakit joongie parah ya?'' tanya jaejoong lagi saat Yunho tak kunjung menjawab pertanyaannya.
''joongie, dengarkan Hyung ya.'' kata yunho sambil menatap jaejoong. Ia menangkupkan kedua tangannya di muka jaejoong.
''apapun yang terjadi, hyung akan selalu di sisimu.'' kata Yunho lagi kali ini ia menatap jaejoong dengan mata yang sudah penuh dengan air mata.
''arraseo, Hyung. Tapi joongie sakit apa?'' tanya jaejoong lagi.
''alzheimer.'' jawab yunho pelan sambil menunduk. ''mianhe, joongie. Hyung tak bisa menjagamu dengan baik, ini salah Hyung. Mianhe..''
''alzheimer?'' Tanya Jaejoong pelan. Terdengar nada ketidakpercayaan pada suaranya. ''sama seperti umma?''
''ne. Sama.'' jawabn Yunho pendek. Ia langsung memeluk Jaejoong erat, seakan takut kehilangan jaejoong saat ini juga.
''lalu bagaimana?'' tanya Jaejoong polos sambil melepas pelukan Yunho. Ia menatap mata Yunho dengan tatapan meminta jawaban.
''mulai sekarang, joongie harus banyak istirahat. Hyung akan menemanimu di rumah. Arra?'' tanya Yunho pada jaejoong. Jaejoong terdiam, ia memikirkan perkataan Hyungnya.
''tapi bagaimana dengan sekolah?'' tanya jaejoong polos pada Yunho. Yunho hanya dapat mendesah berat saat mendengar pertanyaan jaejoong.
Kenapa disaat seperti ini, jaejoong masih berfikir tentang sekolah?
''Tapi kau harus banyak istirahat, joongie.'' kata Yunho lagi.
''aniyo. Sebentar lagi joongie ujian, hyung.'' kata jaejoong sambil menatap Yunho dengan tatapan memohon. ''joongie berjanji tidak akan membuat hyung khawatir.''
yunho hanya dapat mengangguk mengerti. Percuma, ia tahu keputusan adiknya itu tak mungkin dapat ia rubah.
''arraseo, tapi jangan memaksakan dirimu. Arra?''
''arraseo, hyung.'' jawab jaejoong sambil tersenyum.

1 month's laters...

Setelah jaejoong dinyatakan lulus oleh pihak sekolah, Yunho melarang jaejoong untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Yunho meminta Jaejoong untuk tinggal di rumah, mengingat Jaejoong sekarang sudah mulai banyak melupakan hal-hal kecil yang sebenarnya tak mungkin ia lupakan. Dulu, Saat disekolah yang membantu keseharian jaejoong adalah Junsu. Dan sekarang, Yunho ingin jaejoong istirahat di rumah bersamanya.
Pagi ini mendung dan dingin, membuat Yunho malas bangun dari tidurnya. Ia masih ingin tidur di ranjangnya dengan selimut bulu tabal yang hangat.
Tapi matanya langsung terbuka saat ia mendengar bunyi benda yang pecah. Ia langsung turun dari ranjangnya, keluar dari kamarnya menuju kamar disampingnya. Kamar Jaejoong. Saat Yunho membuka pintu kamar Jaejoong, ia melihat jaejoong sedang berdiri membelakanginya. Di depan jaejoong terdapat pecahan kaca dan genangan air. Dengan cepat Yunho menghampiri jaejoong. Perasaannya mulai takut.
''joongie..'' panggil Yunho lembut. Jaejoong membalikkan badannya menatap Yunho. Ia terdiam, seperti mengingat siapa orang yang berdiri di hadapannya sekarang ini.
Yunho hanya dapat tersenyum sedih, saat melihat jaejoong lupa pada dirinya.
''ini hyung, joongie.'' ucap yunho pelan ''yunho hyung.'' sambung yunho sambil membelai pelan rambut jaejoong. Jaejoong masih terdiam, memandangi wajah Yunho dari jarak yang dekat. ''yunho hyung...'' ucap jaejoong akhirnya setelah lama terdiam. Yunho tersenyum kecil saat mendengar jaejoong memanggil namanya dengan nada suara yang manja.
''ne, joongie. Ini yunho hyung.'' ucap yunho seraya membelai pipi jaejoong dengan lembut.
''joongie kenapa?'' tanya Yunho sambil memandang pecahan kaca dan genangan air yang ada di depan jaejoong tadi. Jaejoong terdiam, ia memandang yunho dengan pandangan polos.
''joongie lupa, hyung.'' katanya pelan seraya menunduk.
''sudahlah. kau terluka?'' tanya yunho seraya memeriksa tangan Jaejoong.
''aniyo.'' jawab jaejoong pendek sambil menatap Yunho.
''joongie, hyungkan sudah bilang jangan lakukan hal-hal yang susah. Kan ada Hyung, kalau butuh apa-apa bilang pada Hyung. Arra?'' kata Yunho menasehati Jaejoong untuk kesekian kalinya dalam beberapa hari terakhir ini.
''tapi hyung...'' kata jaejoong sambil menunduk.''joongie selalu menyusahkan Hyung. kasihan Hyung...''
''kau ini bicara apa, hyung tak pernah merasa di repotkan.'' kata Yunho lagi.
''tapi, joongie selalu membuat Hyung susah. Joongie...'' jaejoong tak melanjutkan perkataannya. Ia sudah menangis sekarang.
''ssht. Sudah jangan menangis lagi, joongie.'' kata yunho sambil memeluk jaejoong. Ia berusaha menenangkan jaejoong.
''jangan menangis lagi. Hyung sedih melihatmu menangis.'' kata Yunho sambil mencium puncak kepala Jaejoong.
Jaejoong terdiam, ia tak lagi menangis saat mendengar perkataan terakhir hyungnya itu.
''arraseo.'' kata Jaejoong pelan sambil menatap Yunho. Pandangan mata jaejoong mulai sedikit kabur. Ia merasakan sebuah cairan keluar melalui hidungnya. ''hyung, aku mau bertemu dengan junsuie.''
''Joongie!'' pekik Yunho saat ia melihat darah keluar dari hidung jaejoong.
''jebal...'' kata jaejoong pelan lalu ia jatuh tak sadarkan diri di pelukan Yunho.
''Jangan sekarang. Ini terlalu cepat.'' bisik Yunho pada telinga jaejoong yang sudah tak sadarkan diri dalam pelukannya. ''bahkan kau belum mendengar pernyataan cintaku. Jangan sekarang, jebal...''

TBC
Comment pleasee...

6.12.11

Fanfiction - Nado Saranghae Hyung [1]

Author : Kim Re Ah
Title : Nado saranghae hyung
Genre : Angst, Family, and romance.
Cast : DBSK
Pairing : YunJae
FF pertama saya...jadi harap maklum kalo berantakan...hehe...
check this out...
chapter 01
seorang namja cantik sedang berdiri di depan sebuah cermin besar yang memantulkan bayangan wajah pemuda cantik itu. Pemuda cantik itu memperhatikan bayangannya, ia terlihat pucat pagi ini.
''jae...'' panggil seseorang.
Pemuda cantik yang dipanggil jae tadi menoleh kebelakang dan melihat seorang pria tampan dengan kulit sedikit kecoklatan sedang berdiri di belakangnya.
''ne, hyung.'' jawab jae pelan.
''gwenchana?'' tanya pria itu lagi sambil mendekati jae, ''kau mau ke dokter?''
jae menggeleng pelan, ''aniyo, yunho hyung. Jaejoong tidak apa-apa.'' tolak jaejoong halus.
''tapi wajahmu pucat begitu...'' ucap yunho lagi. Terlihat jika yunho sangat mengkhawatirkan jaejoong, adik manisnya itu.
''gwenchana, hyung. Ayo kita sarapan hyung, lalu antar aku ke sekolah ya?'' kata jaejoong berusaha meyakinkan hyungnya jika ia baik-baik saja.
Yunho hanya mendesah ringan sambil tersenyum manis ke adiknya.
''ne. baiklah. Ayo..'' kata yunho sambil memeluk jaejoong dari samping lalu menuntunnya menuju ke ruang makan. Setelah sarapan, Yunho mengantar jaejoong ke sekolahnya.
''hati-hati ya, Joongie. Nanti pulangnya mau hyung jemput atau pulang sendiri?'' tanya Yunho saat mereka berada di depan sekolah Jaejoong.
''Jaejoong pulang sendiri saja. Hyung pasti sibuk di kantor.'' jawab jaejoong sambil tersenyum ke arah Hyungnya.
''aniyo. Nanti akan Hyung jemput. Wajahmu pucat begitu, hyung takut terjadi apa-apa padamu joongie.'' ucap yunho sambil memandang jaejoong dengan tatapan khawatir.
''arraseo hyung.'' jawab jaejoong sambil mencium pipi kiri hyunya dengan cepat dan lembut. ''jaejoong pergi dulu.'' pamitnya lalu keluar dari mobil menuju gedung sekolahnya.
Yunho tersenyum tipis sambil meraba pipi kirinya yang tadi di cium oleh jaejoong. Lalu Yunho mengemudikan mobilnya keluar dari area sekolah jaejoong menuju kantornya.
Bel Pelajaran pertama telah berbunyi sedari lima belas menit yang lalu. Tapi guru pengajar yang harusnya mengajar di kelas jaejoong belum juga datang.
''jae hyung, Sepertinya seonsangnim tidak hadir hari ini.'' ucap seorang namja imut yang sedang duduk disamping jaejoong. Jaejoong mengangguk pelan, sambil mendesah kecil.
''kau, benar Junsuie.'' jawab jaejoong sambil memandang namja imut disampingnya yang bernama Junsu itu. ''em, Suie. Boleh aku minta tolong?''
''minta tolong apa Hyung?'' tanya Junsu bingung.
''ini. Tolong ajarkan aku bagaimana cara mengerjakan soal ini.'' kata Jaejoong sambil menyodorkan sebuah buku matematika dan ia menunjuk sebuah soal pada Junsu.
Junsu terdiam sebentar, membaca soal yang tadi di maksud oleh jaejoong.
Junsu mendesah ringan, lalu menatap jaejoong dengan tatapan tak percaya.
''kau tak bisa dengan soal semudah ini hyung?'' tanya Junsu dengan nada bingung.
Jaejoong yang mendengar jawaban Junsu segera mengerucutkan bibir cherrynya yang membuat Junsu tertawa saat melihatnya.
''kau menyebalkan Suie. Aku tahu kau itu pintar, sampai-sampai kau bisa duduk disini bersamaku di bangku kelas tiga. Padahal seharusnya kau masih di kelas dua.'' jawab jaejoong pura-pura marah.
''Bukan begitu, Hyung.'' jawab Junsu dengan suara lembut. Merasa bersalah akan ucapannya tadi yang mungkin membuat jaejoong sakit hati.
''lalu?'' tanya jaejoong sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
''tapi, soal ini soal yang mudah hyung. Bukankah kau sendiri yang bilang begitu padaku beberapa hari yang lalu saat aku menanyakan soal yang serupa dengan soal yang kau tanyakan ini.'' jawab Junsu yang membuat jaejoong bingung.
''benarkah? Aku mengatakan itu padamu? Tapi sedari tadi malam aku tak bisa mengerjakan soal ini Suie.'' jawab jaejoong sambil menunduk.
''Tapi bukankah kau sendiri yang mengajarkanku bagaimana cara menyelesaikan soal seperti ini beberapa hari yang lalu, hyung?'' kata Junsu tak percaya.
''mungkin aku lupa. Ayolah Suie, tolong ajarkan aku bagaimana cara mengerjakan soal ini. Seminggu lagi kita sudah ujian, aku takut aku tak lulus Suie'' rengek jaejoong pada Junsu. Junsu menatap mata jaejoong dalam. Ia mencari sesuatu kebenaran di mata jaejoong. Ia memastikan jika saat ini hyungnya ini tidak sedang mengajaknya bercanda.
''kau serius hyung?'' tanya Junsu kembali memastikan.
''ne.'' jawab jaejoong kembali sambil mengangguk. Junsu menghela nafas sebentar, lalu mulai mengajari jaejoong bagaimana cara menyelesaikan soal yang tadi ia tanyakan.
Tak terasa hari sudah siang. Bel tanda pulang telah berbunyi. Semua siswa membereskan barang-barang mereka, memasukkan semua peralatan belajarnya ke tas. Tak terkecuali jaejoong dan Junsu.
''Suie, hari ini aku pulang bersama Yunho Hyung. Jadi aku tak bisa pulang bersamamu.'' kata jaejoong saat mereka menuruni tangga menuju ke lantai satu.
''gwenchana hyung.'' jawab Junsu ''aku ke perpustakaan dulu hyung. Aku mau mengembalikan buku yang tadi kita pinjam.'' sambung Junsu sambil menunjukan buku matematika yang tadi Junsu dan jaejoong pinjam saat istirahat.
''arraseo. Hati-hati.'' jawab jaejoong sambil tersenyum.
''ne. Hyung'' jawab Junsu lalu meninggalkan jaejoong menuju perpustakaan yang berada di samping taman belakang sekolah.
Junsu menatap tak percaya pada pemandangan yang ia lihat. Ia melihat jaejoong sedang berjalan ke arah taman belakang. Padahal tadi ia bilang ia mau pulang bersama Yunho, tapi kenapa ia malah berada di taman belakang?
''Hyung!'' panggil Junsu sambil berlari kecil menyusul jaejoong.
Jaejoong berhenti berjalan, ia menoleh kebelakang dan melihat Junsu sedang mendekatinya.
''junSuie?'' ucap jaejoong ragu saat Junsu berdiri di depannya.
''ne, hyung. Ini aku Junsu. Kenapa kau terlihat ragu begitu saat mengucapkan namaku, seakan kau lupa padaku?'' tanya Junsu bingung.
''aniyo. lupakan saja. Ada apa?'' tanya jaejoong.
''kau mau kemana hyung?'' tanya Junsu bingung.
''tentu saja ke parkiran, menemui Yunho Hyung. Suie..'' jawab jaejoong sambil tersenyum. Tapi Junsu malah mengerutkan keningnya pertanda ia bingung.
''hyung, kau tahu kau salah jalan. Ini jalan menuju taman belakang sekolah.'' jawab Junsu tak percaya.
''eh? Benarkah? Bagaimana aku bisa lupa jalan ke parkiran sekolah ini. Pabbo kau Jung jaejoong'' maki jaejoong sambil memukul pelan keningnya sendiri. kemudian Jaejoong terdiam, lalu memandang Junsu di depannya.
''Suie, kau bisa mengantarku ke parkiran menemui yunho hyung?'' tanya jaejoong pelan.
Junsu yang mendengar ucapan jaejoong hanya mendesah ringan.
''sebenarnya kau ini kenapa sih, hyung? Hari ini kau aneh sekali.'' kata Junsu. Jaejoong terdiam, ia pun tak tahu ada apa dengan dirinya hari ini. Tadi pagi ia lupa bagaimana cara mengerjakan soal matematika yang mudah, saat istirahat tadi ia lupa letak perpustakaan, dan sekarang ia lupa letak parkiran sekolah.
''em. Hari ini aku sidkit tak enak badan Suie, aku pusing.'' jawab jaejoong pelan sambil menunduk. Ia berbohong pada Junsu, sebenarnya ia tak pusing. tapi entah kenapa ia bisa melupakan hal-hal yang seharusnya tak mungkin ia lupakan. Junsu mendesah ringan saat mendengar jawaban jaejoong.
''baiklah, ayo.'' kata Junsu sambil menggandeng tangan jaejoong, membawanya menuju parkiran tempat yunho menunggu jaejoong. Di dalam pikiran Junsu kini telah banyak berkecamuk pertanyaan-pertanyaan tentang keanehan jaejoong hari ini. Padahal ini sudah satu jam sejak Junsu meninggalkan jaejoong. Berarti selama sejam pula Yunho menunggu jaejoong di parkiran.
Saat tiba di parkiran, yunho yang melihat jaejoong sedang berjalan dengan Junsu segera keluar dari mobilnya lalu menghampiri mereka berdua.
''gwenchana, joongie?'' tanya yunho langsung saat melihat jaejoong yang berkeringat dan terlihat lelah serta wajahnya yang masih pucat.
''aku tak apa-apa yunnie hyung.'' jawab jaejoong sambil melepaskan gandengan tangannya dengan Junsu. Jaejoong berjalan mendekati yunho, lalu melingkarkan tangannya di lengan yunho. Yunho hanya tersenyum kecil, lalu membelai pelan rambut hitam jaejoong.
''ayo pulang.'' kata yunho sambil membawa jaejoong menuju mobilnya. Sedangkan Junsu mengikuti di belakang mereka.
''Junsuie, terima kasih banyak untuk hari ini.'' kata jaejoong sambil tersenyum.
''ne, hyung.'' Jawab Junsu sambil membalas senyuman jaejoong. Jaejoong lalu masuk ke dalam mobil.
''Junsu-ah. Terima kasih ya.'' kata yunho sambil menepuk pelan bahu Junsu.
''ne, hyung. Em, hyung boleh aku meminta nomor ponselmu?'' tanya Junsu tiba-tiba.
''untuk apa Junsu-ah?'' tanya yunho.
''hanya untuk mengabarimu jika seandainya ada apa-apa dengan jae-hyung saat di sekolah.'' jawab Junsu pelan.
''arraseo.'' jawab yunho sambil memberikan nomor ponselnya pada Junsu. ''gomawo, Junsu-ah. Kau mau menjaga jaejoong.''
Junsu tersenyum, ''tak perlu sungkan. Aku sudah menganggap jae-hyung seperti hyungku sendiri.'' jawab Junsu.
''baiklah. Kami pulang dulu. Kau mau ikut?'' tanya yunho menawarkan pulang bersama.
''tidak usah, hyung. Aku harus pergi ke suatu tempat dulu.'' tolak Junsu halus. Yunho tersenyum, lalu mengangguk pelan.
''baiklah kami pulang dulu.'' pamit yunho lalu masuk ke dalam mobilnya. Kemudia ia mengemudikan mobilnya keluar dari area sekolah jaejoong menuju rumah mereka. Junsu menatap sedih ke arah mobil yang yunho kemudiakan itu.
''jae-hyung. kau kenapa?'' tanya Junsu pelan pada dirinya sendiri.

TBC
Kim Re Ah--
Mind to comment? Thank you ><

5.12.11

[PHOTOS] Changmin & Lee Yeonhee Spotted Together

bm
Lama gak terdengar kabarnya, Changmin tertangkap kamera sedang bersama Lee Yeon Hee, aktris unggulan SME.
Bagi yang nggak inget, siapa itu lee yeon hee, kalian bisa liat di MV-nya Jang Ri In. Mulai dari Timeless sampe I Will, yang selalu muter2 aja di samping duet Hankyung-Siwon.
Dengan bukti foto-foto stalker ini, apakah ada apa-apa antara Changmin dan Lee YEon Hee ? Lets guess ><
Lee YEon Hee juga mulai di kenal lewat perannya bareng Kangin di Hello Schoolgirl, juga duet-nya bareng Super Junior di lagu Club No. 1
Baru2 ini, dia membintangi iklan LG OZ Generation bareng Kim Ki Bum *aaarrkkkh… kok dikelilingi cowok cakep mulu -_______-*

bb
ii
credit : dbsknight
shared by : ayoshiari@STI

[PIC] 110323 YUNHO & CHANGMIN – ESQUIRE – April



Credit: Newen
Shared by: kokayz.livejournal.com
Reupload by: wonwoneun @ STI

[PIC] 110410 HOMIN’s Wedding Photo – SBS Heroes











 






Credit: as tag + DC
Shared by: kokayz.livejournal.com
Reupload by: wonwoneun @ STI
PLEASE TAKE OUT WITH FULL CREDITS

[PIC] HOMIN FOR FRAU










credit:
source: syc
shared by: hellafun @ omonatheydidnt.livejournal.com
re upload by: wonwoneun @ STI

[INFO] TVXQ Merilis Album ‘Tone’ di Korea



Album Jepang TVXQ yang baru “Tone” telah dirilis di Korea pada tanggal 14 Oktober 2011.
Albumnya sendiri telah dirilis di Jepang pada tanggal 28 September 2011 dan dengan sukses berada pada posisi nomer satu di Oricon’s Album Daily and Weekly Charts dan juga berhasil meraih sebuah Platinum dengan waktu 2 minggu.
Di dalam albumnya, “B.U.T (BE-AU-TY)“, “Duet“, “Back to Tomorrow” akan dimasukkan.“Keep Your Head Down“, “Maximum“, and “Superstar“ juga akan dimasukkan dalam album ini, total lebih dari tiga belas lagu di dalam album yang baru.
Versi CD dan Versi CD+DVD sudah dijual. Versi DVD akan berisi video pembuatan MV. Sementara itu TVXQ akan tampil di Manhattan untuk pembukaan dari ‘SM Town Live World Tour in New York‘ pada October 23rd.
Source: Yonhap News via Naver + Allkpop
shared by: nickymin @ omonatheydidnt.livejournal.com
indo trans by: wonwoneun @ STI